EFEKTIVITAS METODE FONIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MEMBACA
PERMULAAN PADA SISWA SLOW
LEARNER
Widya Andriani Junus1, Komarudin2
Abstract
This study took 5 (five) slow learner students who were
in grades 1, 2, and 3 with the category of having below average beginning
reading skills. The data collection method in this study used was an Assessment
Tool. Data analysis was carried out in this study using Wilcoxon signed rank
test statistical analysis with the help of SPSS 21. The results of data
analysis were obtained based on the magnitude of the score z - 2.023 with a
significant level of 0.043 (P<0.50), which means that there were differences
in the initial reading ability of the subjects before and after being given
treatment using the phonics method. Beginning reading ability of slow learner
students after receiving treatment increased. This could be seen from the
initial reading ability before being given treatment and after being given
treatment which was better with an average increase of 1kpm.
Keyword: Beginning Reading Ability, Slow Learner
Students, Quantitative Experiment
PENDAHULUAN
Pada
tahap membaca permulaan anak-anak harus dilatih agar mampu membaca dengan
lancar terlebih dahulu sebelum memasuki
tahap membaca lanjut atau pemahaman. Di sekolah dasar harus ditekankan pada
keterampilan dasar yaitu membaca, berhitung dan komunikasi yang merupakan
prasyarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan tahap berikutnya. Kenyataannya,
masih banyak anak – anak yang berada di sekolah dasar tidak mampu membaca
dengan baik, sehingga berdampak pada akademik (Slavin, 2014). Pada tahap ini anak harus di latih untuk meningkatkan
kecepatan membaca dilihat dari jumlah kata yang dapat dibaca dengan benar oleh
anak dalam waktu 1 menit.
Sedangkan aspek peningkatan pemahaman
ditunjukkan dari peningkatan presentase jawaban benar dari pertanyaan yang
berkaitan dengan bacaan. Sebalikya
seorang anak dikatakan memiliki kemampuan membaca rendah jika kecepatan membaca
kata di bawah standar permenit kecepatan membaca dan kesulitan dalam memahami
arti dan maksud dari bacaan yang telah dibacanya. (Tampubolon, 2015).
Seorang
anak dikatakan memiliki kemampuan
membaca rendah serta pemahaman yang berada di bawah rata-rata disebut dengan
Anak (slow learner) atau siswa lamban
belajar. Adapun karakteristik anak slow learner terbagi
menjadi dua bagian yaitu karakteristik berbahasa dan karakteristik masalah
auditori perseptual. Karakteristik berbahasa anak slow learner terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya yaitu:
siswa bermasalah pada ekspresi verbalnya, siswa kesulitan membaca dengan
bersuara daripada membaca dalam hati, siswa slow
learner mengalami permasalahan artikulasi. karakteristik masalah
auditori-perseptual meliputi beberapa hal diantaranya: pertama. Ketika
didektee, slow learner mengalami
kesulitan dalam penulisannya entah itu lupa menulis sehingga kata yang hendak
ditulis menjadi kurang lengkap; kedua,
slow learner gagal memahami perintah yang bersifat verbal, seringkali tidak segera memberikan jawaban ketika diberi
sebuah pertanyaan; ketiga, anak slow
learner lebih menyukai materi yang disajikan secara visual daripada
disajikan oral; keempat, ketika diberikan pertanyaan yang bersifat verbal,
tidak jarang anak slow learner menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan
pertanyaan.yang telah diberikan. (Bala dan Rao, 2014)
Untuk
mengatasi permasalahan yang berada di atas maka penulis memilih metode fonik
sebagai bahan ajar untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa slow learner. Metode fonik merupakan
Metode fonik merupakan salah satu metode yang membuat anak mengerti, bahwa ada
hubungan yang sistematis dan dapat diprediksi antara kata tertulis dan suara
yang diucapkan. Dengan mengetahui hubungan ini akan membantu anak mengenali
kata- kata yang familiar secara akurat dan otomatis, dan mampu mengeja kata
yang baru. Metode fonik dapat menggunakan kartu huruf, menggabung-gabungkan
kartu huruf sambil mengucapkannya, merupakan cara yang dapat dilakukan dalam
metode ini. (Phajane, 2014)
METODE ASESSMEN
Metode asesmen yang
digunakan adalah wawancara, observasi dan Tes Kemampuan Membaca
Permulaan.Wawancara dilakukan kepada guru, wali kelas serta kepala sekolah
subjek dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam terkait
permasalahan yang dialami subjek saat ini. Selanjutnya, observasi dilakukan
untuk melihat perilaku subjek dilingkungan sekitarr. Adapun alat tes yang
digunakan yaitu alat tes kemampuan membaca permulaan (Komarudin, 2016). Adapun
tujuan untuk dilakukan tes kemampuan membaca permulaan sebelum dan sesudah di
beri perlakuan menggunakan metode fonik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman
serta kecepatan membaca subjek sebelum dan sesudah diberi perlakuan menggunakan
metode fonik. Yang dimana pencatatan data ini akan dilakukan berdasarkan rumus pemahan dan kecepatan
membaca permulaan yang telah ada.
PRESENTASI
KASUS
Subjek dalam penelitian ini
berjumlah 5 orang subjek yang berada dikelas 1,2 dan 3 sekolah dasar. Kelima
subjek tersebut memiliki IQ berdasarkan
tes S-FRIT, dan masuk dalam kategori rata – rata, serta memiliki
persepsi visual dan auditori yang cenderung dibawah rata – rata maka intelectual Quotient (IQ) subjek penelitian.
Adapun kemampuan membaca permulaan pada masing-masing subjek berdasarkan
observasi yang telah dilakukan yaitu dibawah rata-rata anak seusia mereka,
dimana subjek masih sulit dalam membaca dan memahami apa yang dibaca.
Subjek AAP merupakan siswa kelas 1 Sekolah Dasar yang berusia
7 tahun dan berjenis kelamin perempuan, berdasarkan hasil diagnosis yang telah
dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang mempunyai IQ 79 yang dimana
termasuk dalam kategori slow learner siswa.
Siswa slow
learner merupakan siswa yang mempunyai pemahan rendah dan prestasi belajar
dibawah rata-rata anak nomal dan memiliki skor tes IQ 70 sampai dengan 90 (Nani
Tiani, 2013). normal pada salah satu atau area akademik dan mempunyai
skor tes IQ antara 70 sampai dengan 90 (Nani Triani, 2013). Setelah mengetahui
hasil asesmen yang telah dilakukan dengan menggunakan tes S-Firt terjawab sudah
bahwa subjek termasuk dalam siswa lamban belajar dikarenakan pada saat proses
pembelajaran berlangsung subjek cenderung sulit fokus terhadap apa yang
dijelaskan oleh guru, adapun dalam tulisan dan penulisan subjek masih berada di
bawah rata-rata dengan dibandingkan dengan anak-anak yang berada seumuran
dengan subjek
Kesulitan yang dialami subjek selama
proses pembelajaran berlangsung yaitu subjek cenderung ssulit fokus terhadap
apa yang dijelaskan oleh guru, dan sering mengalihkan fokusnya kepada hall ai,
sehingga subjek harus benar benar di bimbing dan diberitahu terkait
pembelajaran yang berlangsung. Adapun dalam kemampuan membaca dan pemahaman
subjek masih berada di bawh rata-rata dibandingkan dengan anak-anak yang
lainnya. Dalam hal ini, subjek masih belum terlalu menghafal hurruf abjad dan
tidak bisa memdekan “d”, “b”, “m” dan “n” sehingga masih terbalik balik, adapun
dalam tingkat pemahaman subjek masih dibawah rrata-rata dikarenakan subjek
belum terlalu bisa dalam membaca maka dari itu untuk memahami tulisan yang
ditulis dan dibaca oleh subjek masih sulit.
Subjek MRA merupakan siswa kelas 1
Sekolah Dasar yang berusia 7 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. berdasarkan
hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang
mempunyai IQ 73 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner. Berdasarrkan hasil observasi dan wawancaa yang telah
dilakukan subjek MRA dalam proses pembelajran berlangsung cenderung lambat
dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Dalam hal membaca subjek
terbilang sudah bisa dan menguasai baik huruf maupun kata perkata yang
diajarkannya, akan tetapi subjek masih harus memerlukan waktu untuk
menggabungkan huruf menjadi sebuah kalimat. Hal ini yang kadang membuat subjek
merasa tertinggal dengan teman teman sebayanya dan membuat subjek kadang malas
dan bosan untuk melanjutkan ketahap selanjutnya. Dalam pemahaman subjek masih
kurang dalam memahami dan menjawab soal yang diberikan oleh guru hal ini
dilihat dari jawaban subjek tidak sesuai dengan soal yang telah ditentukan.
Sehingga subjek masih memerlukan pembimbingan khusus untuk melatih kemampuan
membaca serta pemahaman subjek. Adapun bentuk tulisan subjek masih rapi dan
bisa dibaca tetapi apabila subjek sudah malas dan merasa bosan maka subjek akan
menulis acak-acakan dan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan.
Subjek AAAA merupakan siswa kelas 2
Sekolah Dasar yang berusia 8 tahun dan berjenis kelamin laki-laki, berdasarkan
hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas dua yang
mempunyai rerata skor IQ sebesar 84 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner siswa. Adapun permasalahan
yang dialami subjek dapat dilihat berdasarkan dari hasil wawancara dan juga
observasi yang telah dilakukan peneliti bahwa. Subjek AAAA dalam kemampuan
membaca dan pemahaman masih cenderung di bawah rata-rata dibandingkan dengan
subjek MRA Dan subjek AAP. Subjek AAAA dalam kemampuan mengenal huruf masih
sangat kurang dan belum bisa membedakan huruf seperi “b”, “d”m “m”, “n”,”w” dan
juga subjek belum terlalu menghafal huruf abjad. Hal ini dikarenakan selama
pembelajran berlangsung subjek kurang memperhatikan guru yang mengajar dan
cenderung bermain kesana kemari tanpa fokus kepada guru, subjek juga sulit
untuk fokus dan lebih suka dalam bermain. Tetapi dalam kemampuan tematiknya
subjek lumayan bagus dan bisa menjumlahkan serta mengurangi angka angka yang
telah di sediakan adapun perkaliannya subjek masih bisa menjawab perkalian
dasar.
Dalam kemampuan pemahan subjek massih
terbilang dibawah rata-rata, dikarenakan subjek belum dapat membaca dengan
lancar dan belum dapat mengenal huruf abjad dengan baik sehingga pemahan subjek
amsih dibawah rata-rata. Akan tetapi, apabila subjek jelaskan secara lisan
subjek mudah memahami tapi dalam membaca sendiri subjek belum bisa. Tulisan
tangan subjek juga masih seusia anak-anak tk pada umumnya yaitu masih acak-acak
dan cenderung tidak jelas, apabila mood subjek tidak bagus maka subjek
cenderung akan menulis asal asalan tentang apa yang dia tulis.
Subjek DAS merupakan siswa kelas 2
Sekolah Dasar yang berusia 8 tahun dan berjenis kelamin perempuan, berdasarkan
hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang
mempunyai IQ 79 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner siswa. Adapun permasalahan yang dialami subjek dapat
dilihat dari hasil observasi dan wawancarra bahwa subjek merupakan pribadi yang
pendiam dan kurang bergaul Bersama teman-temannya, untuk kemampuan membaca
subjek hamper sama seperti MRA bahwa subjek DAS sudah bisa membaca tetapi
memerlukan waktu yang cukup lama dikarenakan subjek merasa minder dan
tertinggal sehingga subjek jarang menyeruakan apa yang ingin disampaikannya,
dalam hal ini subjek sudah dapat mengenal huruf dengan baik dan dapat
menggabungkan huruf-perhuruf menjadi kata tetapi masih memerlukan waktu. Dalam
hal pemahaman subjek masih kurang memahami terkait apa yang ditulis sehingga
padda saat menjawab soal subjek kadang menjawab beberapa soal dengan
asal-asalan yang penting subjek bisa menjawabnya saja.
Subjek yang kelima yaitu NAP. NAP
merupakan siswa kelas 3 Sekolah Dasar yang berusia 9 tahun dan berjenis kelamin
laki-laki, berdasarkan hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan
siswa kelas satu yang mempunyai IQ 83 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner + komorbid. Adapun permasalahan yang dialami oleh
subjek NAP yaitu permasalahan dalam berbicara dikarenaka subjek merupakan salah
satu siswa dengan komorbid maka pengucapan yang diucapkan subjek masih kurang
jelas dan banyak yang belum dikuasai sehingga dalam kemampuan membaca dan
memahami yang dialami subjek masih berada dibawah rata-rata. Dalam kemampuan
membaca subjek sudah dapat mengenal huruf dengan baik dan sudah bisa
mengucapkan dan membaca dua suku kata tetapi dalam pengucapannya masih kurang
jelas. Adapun dalam pemahaman subjek bisa memahami terkait apa yang dibaca nya
tetapi, apabila teks yang dibaca subjek terbilang Panjang maka subjek tidak
akan mau membacanya dan sudah merasa bosan maka subjek akan meninggalkan
pekerjaannya dan bermain dengan dunianya sendiri.
DIAGNOSIS
DAN PROGNOSIS
Berdasarkan hasil asesmen yang telah
dilakukan pada kelima subjek dan merujuk pada teori yang dikembangkan oleh
(Bala dan Rao, 2014) bahwa kelima subjek diatas merupakan siswa slow learner
hal ini ditandai dengan beberapa karakteristik slow learner itu sendiri yaitu masalah auditori-perseptual meliputi beberapa hal
diantaranya: pertama. Ketika didektee, slow
learner mengalami kesulitan dalam penulisannya entah itu lupa menulis
sehingga kata yang hendak ditulis menjadi kurang lengkap; kedua, slow learner gagal memahami perintah
yang bersifat verbal, seringkali tidak
segera memberikan jawaban ketika diberi sebuah pertanyaan; ketiga, anak slow learner lebih menyukai materi yang
disajikan secara visual daripada disajikan oral; keempat, ketika diberikan pertanyaan
yang bersifat verbal, tidak jarang anak slow learner menjawab dengan jawaban
yang tidak sesuai dengan pertanyaan.yang telah diberikan.
Prognosis perkiraan keberhasilan subjek
dalam proses intervensi menggunakan metode fonik untuk meningkatkan kemampuan
membaca permulaan pada siswa slow learner
dapat mengalami peningkatakan. Hal ini ditinjau dari tahapan pembelajaran menggunakan metode fonik
yang terdiri dari tahap merah (membaca dengan suku kata terbuka), biru (membaca
dengan suku kata tertutup), dan hijau (membaca dengan kata yang mengandung suku kata vokal
ganda maupun konsonan ganda).
INTERVENSI
Target intervensi untuk penelitian ini
yaitu untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak slow learner dengan gokus penelitian
yatiu: (1) siswa dapat membaca dengan dua suku kata terbuka, (2) siswa daoat
membaca dengan dua suku kata tertutup, (3) siswa dapat membaca dengan huruf
kosonan vocal ganda, (4) siswa dapat memahami terkait apa yang dibacanya.
Teknik intervensi yang dilakukan yaitu dengan melakukan pembelajan kepada lima
subjek dengan pendekatan menggunakan metode fonik.
Metode fonik merupakan suatu metode
mengajar membaca yang berkaitan dengan bunyi. Dimana huruf ini terdiri huruf
vokal dan konsonan yang digabung menjadi suku kata dan kalimat. Dalam tahap ini
siswa dikenalkan dengan cara membunyikan bunyi huruf pada kartu huruf, kartu
gambar sesuai perintah guru, misalnya huruf “a” pada kata apel atau anggur,
huruf “b” pada benda bola, huruf “c” pada kata cicak atau capung, dan
seterusnya (Rianto, 2016)
Tahapan menggunakan metode fonik terdiri
dari 3 tapan yaitu tahap merah, tahap biru dan tahap hijau; Pada tahap tahap merah yaitu membaca dengan suku kata
terbuka seperti ka - ki, ka - ka, su - ka, ma - ta, pi - ta dsb. Tahap biru yaitu membaca
kata yang mengandung suku kata tertutup seperti mo-tor, ka-sur, jen-de-la,
si-sir, kun-ci, bo-tol, si-rup, dsb. Tahap hijau yaitu membaca kata yang
mengandung suku kata vokal ganda maupun konsonan ganda. Contoh kata dari vokal
ganda atau double vokal seperti pa-kai, pu-lau, si-lau, dsb. Sedangkan konsonan
ganda atau double konsonan seperti nye-nyak, ta-ngan, struk-tur, bin-tang dan
sebagai berikut. (Thahir 2012).
Adapun teknis pelaksanaan pe,berian dengan menggunakan
metode fonik yang dimana mengacu pada teori (Thahir, 2012). Langkah-langkah
pelaksaan intervensi dengan menggunakan metode fonik sebagai berikut: a. Anak
diperintahkan menggunakan bunyi huruf saat mengeja, b. Anak memanjangkan bunyi
huruf saat akan menyambungkan dengan huruf lain, c. Pengajaran dimulai dengan
susunan huruf lalu dilanjutkan pola huruf yang lebih rumit, d. Anak dikenalkan
dengan bunyi konsonan rangkap sebagai satu kesatuan bunyi, misalnya, konsonan
ng dan ny, e. Selain itu, anak juga dikenalkan dengan bunyi vocal rangkap
sebagai satu kesatuan bunyi, misalnya ai, au, dan oi.
Sebelum diadakannya intervensi, peneliti melakukan pretest terlebih dahulu dengan
menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan pada siswa slow learner. Setelah diketahui hasil
dari masing masing subjek, dimana kelima subjek yang telah ditentukan mempunyai
kemampuan membaca rendah maka selanjutnya peneliti melakukan intervensi kepada
5 subjek dengan menggunakan metode fonik sebagai bahan ajar dalam pelaksanaan
penelitian.
Dalam penelitian ini intervensi dilaksanakan kurang lebih
12 kali pertemuan selama dua minggu dengan waktu yang didapatkan perharinya
kurang lebih 90 menit setiap harinya. Adapun gambaran intervensi yang dilakukan
dapat dilihat dibawah ini:
Pada Pertemuan 1-3 : fokus peneliitian yaitu
memperkenalkan kepada subjek dengan 2 suku kata terbuka seperti (ba-ca, ma-ma,
pa-ma, ma-in) dan lain sebagainya yaitu dengan Mengidentifikasi
keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kelompok – kelompok huruf, adapun fokus pada
pada pertemuan 1-3 yaitu:.
1) Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kartu kata
dengan 2 huruf suku kata
2) Mengucapkan bunyi-bunyi kelompok-kelompok huruf dan huruf, serta
bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi
3) Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak
untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.
4) Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta
mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa
5) Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata
Pada pertemuan ke 4-6 : fokus penelitian yaitu meningkatkan
kemampuan membaca permulaan pada siswa. Adapun fokus pada pertemuan ke 4-6
yaitu siswa dapat membaca kartu kata yang mengandung suku kata tertutup seperti
(fa-kir, fo-sil, fut-sal, je-ruk) dan lain sebagainya dengan langkah-langkah
berikut ini:
1) Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kata dengan
suku kata tertutup
2) Mengucapkan bunyi - bunyi kelompok - kelompok huruf dan huruf,
serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi
3) Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak
untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.
4) Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta
mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa
5) Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata
Pertemuan ke 7-9 : fokus penelitian ini yaitu
meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa. Adapun fokus pada pada
pertemuan ke 7-9 yaitu siswa dapat membaca kartu
kata, membaca kata yang mengandung suku kata vocal ganda, seperti (ha-ri-ma-u,
du-ni-a, ku-e, tu-pai) dan lain sebagainya dengan langkah berikut ini :
1) Mengidentifikasi keseluruhan kata, dan bunyi suku kata vocal
ganda
2) Mengucapkan bunyi - bunyi kelompok - kelompok huruf dan huruf,
serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi
3) Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak
untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.
4) Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta
mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa
5) Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata
Pada pertemuan ke 10-12 : fokus pada penelitian ini yaitu meningkatkan kemampuan membaca permulaan
pada siswa slow learner dengan menggunakan metode fonik. Adapun fokus pada
pertemuan ke 10-12 yaitu siswa dapat membaca kartu kata dengan huruf konsonan
“ng” dan “ny” seperti (nye-nyak, nya-muk, nya-nyi, si-nga, wa-ngi, nyu-lam dan
lain sebagainya). Dengan langkah berikut:
1) Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kata “ng” dan “ny”.
2) Mengucapkan bunyi - bunyi kelompok - kelompok huruf dan huruf,
serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi
3) Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak
untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.
4) Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta
mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa
5)
Menanyakan kepada anak tentang
keseluruhan kata
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Berdasarkan intervensi yang telah diberikan, kelima subjek
menunjukkan perubahan positif berdasarkan dari tingkat kemampuan membaca
permulaan yang ada pada subjek. Sebelum dilakukan intervensi, dapat dilihat
bahwa kelima subjek menunjukkan
kemampuan membaca rendah dimana pada hari pertama intervensi subjek
terlihat masih bingung dan belum bisa menggabungkan dan membaca dua suku kata
terbuka sedangkan beberapa subjek lainnya belum dapat mengunul huruf huruf
abjad dengan baik serta belum bisa membedakan beberapa huruf seperi “m”, “n”,
“w”, “b”, “d”, dan lain sebagainya. Kemampuan membaca rendah atau dibawah
rata-rata yang dimiliki subjek membuat tingkat pemahaman subjek akan menurun
sehingga akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan IQ yang ada pada
masing-masing subjek, untuk meningkatkan kemampuan membaca serta pemahaman
subjek peneliti menggunakan metode fonik sebagai bahan ajar dalam penelitian
ini.
Pada masing-masing subjek juga mengalami peningkatannya sendiri
dapat dilihat bahwa pada subjek AAP bahwa berdasarkan skor Presentase
menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan pada subjek sebelum di berikan
intervensi sebanyak 0% hal ini dikarenakan subjek belum dapat memahami Alat Tes
Kemampuan Membaca Permulaan dan hanya membaca menggunakan imajinasinya saja.
Setelah diberikan intervensi presentase skor kemampuan membaca yang diperoleh
subjek sebesar 34,16%, dengan aspek kecepatan baca sebesar 56,15% dan aspek
pemahaman sebesar 68%.
Pada
subjek AAAA saat sebelum diberikan
intervensi pesentase skor yang diperoleh subjek sebesar 0% dikarenakan subjek
hanya menyebutkan satu persatu huruf pada alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan.
Lalu, Setelah diberikannya intervensi selama 12 sesi dapat dilihat perubahan
bahwa subjek AAAA sudah dapat membaca huruf menggunakan dua suku kata dan
berdasarkan dari presentase hasil setelah diberikan intervensi meningkat
sebesar 12,64%, dengan aspek kecepatan baca sebesar 20,42% dan pemahaman
sebesar 66%. Hal ini dapat dilihat bahwa kema mpuan subjek sebelum dan
sesudah diberi perlakuan menggunakn metode fonik meningkat sebesar 12,64%.
Pada
subjek ketiga diketahui bahwa subjek MRA berdasarkan Tes Kemampuan Membaca
Permulaan sebelum diberi perlakuan memiliki skor kemampuan membaca sebesar
25,14% dengan\ aspek kecepatan sebesar 33,91% dan aspek pemahaman sebesar 50%.
setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan metode fonik selama 12 sesi,
dapat dilihat bahwa subjek MRA cepat dalam memberikan tanggapan selama proses
intervensi berlangsung sehingga dalam membaca menggunakan dua suku kata serta
membaca kalimat dengan dua suku kata. Subjek MRA sudah dapat melakukannya tanpa
adanya kesalahan, dilanjut dengan membaca dua suku kata terrtutup subjek sudah
dapat membacanya hanya saja memerlukan waktu beberapa saat untuk subjek dapat
membaca dengan benar. Pada huruf konsonan dan vocal subjek dapat membacanya
tetapi memerlukan waktu untuk subjek memahami bacaannya dan membaca kalimatnya
secara utuh. Hal ini dapat dilihat dari presentase kemampuan membaca subjek
setelah diberikan intervensi menggunakan metode fonik dapat dilihat bahwa
kemampuan membaca subjek meningkat sebesar 45, 34% dan aspek kecepatan
meningkat sebesar 56,74% dan aspek pemahaman meningkat sebesar 70%. Hal ini
dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan sebelum dan sesudah diberikan
intervensi menggunakan metode fonik.
Pada
subjek keempat, diketahui bahwa subjek NAP berdasarkan Tes Kemampuan
Membaca Permulaan sebelum diberi
intervensi, memiliki skor kemampuan membaca sebesar 37,17% dengan aspek
kecepatan baca sebesar 46,7% dan aspek kemampuan sebesar 55%. Setelah diberikan
intervensi menggunakan metode fonik selama 12 sesi, subjek mengakui pembelajaan
yang diberikan oleh fasilitator menyenangkan dan tidak membosankan sehingga membuat
subjek dapat memahami dan cepat tanggap terhadap apa yang diberikan
fasilitator, seperti membaca kalimat dua suku kata terbuka dan tertutup. Pada
tahap ini subjek dapat memahami dan menangkap pembelajaran dengan baik,
sedangkan pada tahap membaca konsonan dan vocal subjek dapat membacanya tetapi
subjek memerlukan waktu untuk mengeja setiap apa yang ditunjukan oleh
fasilitator. Hal ini dapat dilihat pada saat subjek di tes kembali menggunakan
Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan pada subjek diperoleh hasil kemampuan
membaca subjek setelah diberikan intervensi sebesar 50,28% dengan aspek
kecepatan sebesar 57,55% dan aspek pemahaman sebesar 80%. Hal ini dapat dilihat
bahwa terjadi peningkatan sebelum dan sesudah diberikan intervensi menggunakan
metode fonik
Pada
subjek terakhir, diketahui bahwa subjek DAS berdasarkan Tes Kemampuan Membaca
Permulaan sebelum diberikan intervensi memiliki skor kemampuan membaca sebesar
12,76% dengan aspek kecepatan baca sebesar 20,6% dan aspek pemahaman sebesar
50%. Setelah diberikan perlakuan menggunakan metode fonik dengan kurung waktu
12 kali pertemuan, maka hasil yang didapat selama prroses intervensi kepada DAS
yaitu subjek mempunyai kepercayaan diri yang tinggi hal ini dilihat pada saat
fasilitator mengajar subjek DAS, DAS memberikan repson yang cepat dan tanggap,
serta DAS juga dapat membaca menggunakan dua suku kata terbuka dan terutup
dengan lancar, tetapi. Pada huruf konsonan dan vocal DAS masih memerlukan waktu
untuk mengeja dan membaca huruf serta kata yang diberikan fasilitator. Hal ini dapat dilihat dari hasil DAS
setelah diberikan intervensi menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Pemulaan
bahwa subjek DAS memiliki skor sebesar 32,93% dengan aspek kecepatan baca
sebesar 33,91% dan aspek pemahaman sebesar 50%. Hal ini dapat dilihat bahwa
terjadi peningkatan sebelum dan sesudah diberikan intervensi menggunakan metode
fonik.
Penggunaan metode fonik pada penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan membaca permulaan yang ada pada subjek. Dapat dilihat
bahwa, berdasarkan dari pemberian intervensi yang dilakukan selama kurang lebih
12 hari dapat dilihat bahwa kelima subjek mengalami peningkatan kemampuan
membaca permulaan sebelum dan sesudah di beri perlakuan. Hal ini dapat dilihat
dari hasil analisis menggunakan Wilcoxon
Sign Rank Test dengan besaran
skor z = - 2,023 dan taraf yang signifikan sebesar 0,043 (p<0, 050), yang
artinya ada perbedaan kemampuan membaca permulaan yang ada pada subjek sebelum
dan sesudah diberikan perlakuan dengan menggunakan metode fonik.
Pembahasan
Berdasarkan
hasil analisis yang telah dilakukan, ketiga subjek mengalami penurunan jumlah
kesalahan membaca kata dalam Tes Kemampuan Membaca Permulaan setelah perlakuan,
yaitu NAP mengalami penurunan sebanyak 25 kata, MRA sebanyak 27 kata, dan DAS
sebanyak 15 kata. Bahkan dengan melalui metode fonik ini juga mampu memfokuskan
kepada subjek seperti AAP dan AAAA yang sebelumnya hanya dapat mengenal huruf
abjad saja dan belum dapat menggabungkannya menjadi bisa dan membaca dengan dua
suku kata, dan meniadakan kesalahan membaca dengan dua suku kata yang dilakukan
oleh subjek NAP, MRA dan DAS pada saat Tes Kemampuan Membaca Permulaan setelah
perlakuan. Selain itu juga mampu meniadakan kesalahan baca pada tiga suku kata
atau huruf dengan konsonan ganda dan vocal anda seperti “ng” dan “ny” kepada
subjek NAP, MRA, dan DAS. Hal ini dapat dilihat bahwa, metode fonik mampu
menurunkan tingkat kesalahan baca kepada lima subjek penelitian.
Mengacu
pada uraian diatas dapat dilihat bahwa masing – masing subjek memiliki
peningkatan yang cepat pada aspek pemahaman dibandingkan dengan aspek kemampuan
membaca. Hal ini dapat didasarkan pada pendapat Tampubolon (1990), bahwa ketika
pembaca tidak membaca keseluruhan kata dalam suatu bacaan, maka pembaca masih
bisa memahami maksud dari bacaan tersebut.
Menurut
aliran kontrustivis yang dikemukakan oleh Andersen (dalam Rahim,2009), bahwa
pembaca memahami isi bacaan dengan menghubungkan konteks bacaan dengan
pengetahuan yang sebelumnya pembaca miliki (Komarudin, 2016). Hal ini dapat
berarti bahwa meskipun dalam suatu teks bacaan tidak membahas secara lengkap
tentang suatu hal, maka pembaca memungkinkan tetap dapat memahami teks bacaan
tersebut berdasarkan dari pengalaman ataupun penngetahuan yang dimiliki subjek.
Sebagai contoh pada bacaan ‘Pensil Alat Tulis Kita’ dalam Tes Kemampuan Membaca
Permulaan, tidak terdapat kalimat atau paragraph yang membahas berbagai macam
alat tulis selain pensil. Akan tetapi kelima subjek dalam penelitian ini tetap
mampu menjawab pertanyaan yang berbunyi ‘Sebutkan Alat Tulis Lain Selain
Pensil!”, dan subjek akan menjawab berdasakan pengalaman ataupun pengetahuan
subjek sebelumnya, sehingga subjek mampu memahami isi bacaan.
Adanya
peningkatan kecepatan membaca dan pemahaman, maka kemampuan membaca kelima
subjek dapat meningkat. Hal ini berdasarkan dari pendapat tampubolon (1990),
bahwa kemampuan membaca dikonstruksikan oleh 2 aspek, yaitu kecepatan membaca
dan pemahaman, sehingga apabila kedua aspek tersebut meningkat, maka kemampuan
memabaca subjek juga akan mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat
berdasarkan analisis deskriptif bahwa ada peningkatan rerata kemampuan membaca
kelima subjek setelah diberikan perlakuan.
Berdasarkan hasil
analisis data yang diperoleh dengan menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dapat diperoleh besaran skor z - 2,023
dengan taraf yang signifikan sebesar 0,043 (P,<0,50), yang artinya ada
perbedaan kemampuan membaca permulaan pada subjek sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan dengan menggunakan metode fonik. Kemampuan
membaca permulaan pada siswa slow learner
setelah mendapatkan perlakuan meningkat, hal ini dapat diketahui dari
kemampuan membaca permulaan sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberi
perlakuan lebih baik dengan rerata peningkatan sebesar 24,53
kpm.
Referensi
Bala Jampala Madhu dan Rao, Digurmati Bhaskara. 2004, Methods of Teaching
Exceptional Children New Delhi; Discovery Publishing House
Komarudin, Rahma Widyana, 2016 Efetivitas
Metode Analisis Glass Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak
Berkesulitan Membaca Kelas III Sekolah Dasar. Program Magister Psikologi Profesi, Fakultas Psikologi Universitas
Mercubuana Yogayakarta
Nani Triani dan
Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow Learner),
(jakarta: Luxima, 2013), h. 3
Phajane, M. (2014). Introducing
Beginning reading Using Phonics Approach. Mediterranean Journal of Social
Sciences. Vol. 5, No. 10
Rianto, E. 2016 “Pengaruh Metode Fonik Terhadap Kemampuan
Membaca Permulaan Anak ”, Jurnal PAUD Teratai5 (2) : 34-38
Slavin, 2014
Slavin, E.R. 2014. Membaca Membuka Pintu Dunia Program Success For All Model
Yang Jelas dan Kuat untuk Meningkatkan Kemampuan Mambaca Anak Sekolah Dasar.
Edisi Kedua. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Tampubolon.
2015. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efesien. Bandung:Angkasa.
Thahir, Sumarti. 2015. Pengembangan Bahasa Indonesia Anak Usia Dini Dengan
Metode Fonik ( usia 2-8 tahun ). Jawa Barat: Pustaka Hati Educanter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar