Senin, 09 Oktober 2023

EFEKTIVITAS METODE FONIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA SISWA SLOW LEARNER

 

EFEKTIVITAS METODE FONIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA

PERMULAAN PADA SISWA SLOW LEARNER



 

Widya Andriani Junus1, Komarudin2

Abstract

This study took 5 (five) slow learner students who were in grades 1, 2, and 3 with the category of having below average beginning reading skills. The data collection method in this study used was an Assessment Tool. Data analysis was carried out in this study using Wilcoxon signed rank test statistical analysis with the help of SPSS 21. The results of data analysis were obtained based on the magnitude of the score z - 2.023 with a significant level of 0.043 (P<0.50), which means that there were differences in the initial reading ability of the subjects before and after being given treatment using the phonics method. Beginning reading ability of slow learner students after receiving treatment increased. This could be seen from the initial reading ability before being given treatment and after being given treatment which was better with an average increase of 1kpm. 

Keyword: Beginning Reading Ability, Slow Learner Students, Quantitative Experiment


 

PENDAHULUAN

Pada tahap membaca permulaan anak-anak harus dilatih agar mampu membaca dengan lancar terlebih dahulu sebelum memasuki tahap membaca lanjut atau pemahaman. Di sekolah dasar harus ditekankan pada keterampilan dasar yaitu membaca, berhitung dan komunikasi yang merupakan prasyarat mutlak untuk keberhasilan pendidikan tahap berikutnya. Kenyataannya, masih banyak anak – anak yang berada di sekolah dasar tidak mampu membaca dengan baik, sehingga berdampak pada akademik (Slavin, 2014). Pada tahap ini anak harus di latih untuk meningkatkan kecepatan membaca dilihat dari jumlah kata yang dapat dibaca dengan benar oleh anak dalam waktu 1 menit.

Sedangkan aspek peningkatan pemahaman ditunjukkan dari peningkatan presentase jawaban benar dari pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan.  Sebalikya seorang anak dikatakan memiliki kemampuan membaca rendah jika kecepatan membaca kata di bawah standar permenit kecepatan membaca dan kesulitan dalam memahami arti dan maksud dari bacaan yang telah dibacanya. (Tampubolon, 2015).

Seorang anak dikatakan  memiliki kemampuan membaca rendah serta pemahaman yang berada di bawah rata-rata disebut dengan Anak (slow learner) atau siswa lamban belajar. Adapun karakteristik anak slow learner terbagi menjadi dua bagian yaitu karakteristik berbahasa dan karakteristik masalah auditori perseptual. Karakteristik berbahasa anak slow learner terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya yaitu: siswa bermasalah pada ekspresi verbalnya, siswa kesulitan membaca dengan bersuara daripada membaca dalam hati, siswa slow learner mengalami permasalahan artikulasi. karakteristik masalah auditori-perseptual meliputi beberapa hal diantaranya: pertama. Ketika didektee, slow learner mengalami kesulitan dalam penulisannya entah itu lupa menulis sehingga kata yang hendak ditulis menjadi kurang lengkap; kedua, slow learner gagal memahami perintah yang bersifat verbal, seringkali  tidak segera memberikan jawaban ketika diberi sebuah pertanyaan; ketiga, anak slow learner lebih menyukai materi yang disajikan secara visual daripada disajikan oral; keempat, ketika diberikan pertanyaan yang bersifat verbal, tidak jarang anak slow learner menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan.yang telah diberikan. (Bala dan Rao, 2014)  

Untuk mengatasi permasalahan yang berada di atas maka penulis memilih metode fonik sebagai bahan ajar untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa slow learner. Metode fonik merupakan Metode fonik merupakan salah satu metode yang membuat anak mengerti, bahwa ada hubungan yang sistematis dan dapat diprediksi antara kata tertulis dan suara yang diucapkan. Dengan mengetahui hubungan ini akan membantu anak mengenali kata- kata yang familiar secara akurat dan otomatis, dan mampu mengeja kata yang baru. Metode fonik dapat menggunakan kartu huruf, menggabung-gabungkan kartu huruf sambil mengucapkannya, merupakan cara yang dapat dilakukan dalam metode ini. (Phajane, 2014)

METODE ASESSMEN

Metode asesmen yang digunakan adalah wawancara, observasi dan Tes Kemampuan Membaca Permulaan.Wawancara dilakukan kepada guru, wali kelas serta kepala sekolah subjek dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam terkait permasalahan yang dialami subjek saat ini. Selanjutnya, observasi dilakukan untuk melihat perilaku subjek dilingkungan sekitarr. Adapun alat tes yang digunakan yaitu alat tes kemampuan membaca permulaan (Komarudin, 2016). Adapun tujuan untuk dilakukan tes kemampuan membaca permulaan sebelum dan sesudah di beri perlakuan menggunakan metode fonik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman serta kecepatan membaca subjek sebelum dan sesudah diberi perlakuan menggunakan metode fonik. Yang dimana pencatatan data ini akan dilakukan  berdasarkan rumus pemahan dan kecepatan membaca permulaan yang telah ada.

PRESENTASI KASUS

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 5 orang subjek yang berada dikelas 1,2 dan 3 sekolah dasar. Kelima subjek tersebut memiliki IQ berdasarkan tes S-FRIT, dan masuk dalam kategori rata – rata, serta memiliki persepsi visual dan auditori yang cenderung dibawah rata – rata maka intelectual Quotient (IQ) subjek penelitian. Adapun kemampuan membaca permulaan pada masing-masing subjek berdasarkan observasi yang telah dilakukan yaitu dibawah rata-rata anak seusia mereka, dimana subjek masih sulit dalam membaca dan memahami apa yang dibaca.

Subjek AAP merupakan siswa kelas 1 Sekolah Dasar yang berusia 7 tahun dan berjenis kelamin perempuan, berdasarkan hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang mempunyai IQ 79 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner siswa. Siswa slow learner merupakan siswa yang mempunyai pemahan rendah dan prestasi belajar dibawah rata-rata anak nomal dan memiliki skor tes IQ 70 sampai dengan 90 (Nani Tiani, 2013). normal pada salah satu atau area akademik dan mempunyai skor tes IQ antara 70 sampai dengan 90 (Nani Triani, 2013). Setelah mengetahui hasil asesmen yang telah dilakukan dengan menggunakan tes S-Firt terjawab sudah bahwa subjek termasuk dalam siswa lamban belajar dikarenakan pada saat proses pembelajaran berlangsung subjek cenderung sulit fokus terhadap apa yang dijelaskan oleh guru, adapun dalam tulisan dan penulisan subjek masih berada di bawah rata-rata dengan dibandingkan dengan anak-anak yang berada seumuran dengan subjek

 

Kesulitan yang dialami subjek selama proses pembelajaran berlangsung yaitu subjek cenderung ssulit fokus terhadap apa yang dijelaskan oleh guru, dan sering mengalihkan fokusnya kepada hall ai, sehingga subjek harus benar benar di bimbing dan diberitahu terkait pembelajaran yang berlangsung. Adapun dalam kemampuan membaca dan pemahaman subjek masih berada di bawh rata-rata dibandingkan dengan anak-anak yang lainnya. Dalam hal ini, subjek masih belum terlalu menghafal hurruf abjad dan tidak bisa memdekan “d”, “b”, “m” dan “n” sehingga masih terbalik balik, adapun dalam tingkat pemahaman subjek masih dibawah rrata-rata dikarenakan subjek belum terlalu bisa dalam membaca maka dari itu untuk memahami tulisan yang ditulis dan dibaca oleh subjek masih sulit.

 

Subjek MRA merupakan siswa kelas 1 Sekolah Dasar yang berusia 7 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. berdasarkan hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang mempunyai IQ 73 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner. Berdasarrkan hasil observasi dan wawancaa yang telah dilakukan subjek MRA dalam proses pembelajran berlangsung cenderung lambat dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Dalam hal membaca subjek terbilang sudah bisa dan menguasai baik huruf maupun kata perkata yang diajarkannya, akan tetapi subjek masih harus memerlukan waktu untuk menggabungkan huruf menjadi sebuah kalimat. Hal ini yang kadang membuat subjek merasa tertinggal dengan teman teman sebayanya dan membuat subjek kadang malas dan bosan untuk melanjutkan ketahap selanjutnya. Dalam pemahaman subjek masih kurang dalam memahami dan menjawab soal yang diberikan oleh guru hal ini dilihat dari jawaban subjek tidak sesuai dengan soal yang telah ditentukan. Sehingga subjek masih memerlukan pembimbingan khusus untuk melatih kemampuan membaca serta pemahaman subjek. Adapun bentuk tulisan subjek masih rapi dan bisa dibaca tetapi apabila subjek sudah malas dan merasa bosan maka subjek akan menulis acak-acakan dan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan.

 

Subjek AAAA merupakan siswa kelas 2 Sekolah Dasar yang berusia 8 tahun dan berjenis kelamin laki-laki, berdasarkan hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas dua yang mempunyai rerata skor IQ sebesar 84 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner siswa. Adapun permasalahan yang dialami subjek dapat dilihat berdasarkan dari hasil wawancara dan juga observasi yang telah dilakukan peneliti bahwa. Subjek AAAA dalam kemampuan membaca dan pemahaman masih cenderung di bawah rata-rata dibandingkan dengan subjek MRA Dan subjek AAP. Subjek AAAA dalam kemampuan mengenal huruf masih sangat kurang dan belum bisa membedakan huruf seperi “b”, “d”m “m”, “n”,”w” dan juga subjek belum terlalu menghafal huruf abjad. Hal ini dikarenakan selama pembelajran berlangsung subjek kurang memperhatikan guru yang mengajar dan cenderung bermain kesana kemari tanpa fokus kepada guru, subjek juga sulit untuk fokus dan lebih suka dalam bermain. Tetapi dalam kemampuan tematiknya subjek lumayan bagus dan bisa menjumlahkan serta mengurangi angka angka yang telah di sediakan adapun perkaliannya subjek masih bisa menjawab perkalian dasar.

 

Dalam kemampuan pemahan subjek massih terbilang dibawah rata-rata, dikarenakan subjek belum dapat membaca dengan lancar dan belum dapat mengenal huruf abjad dengan baik sehingga pemahan subjek amsih dibawah rata-rata. Akan tetapi, apabila subjek jelaskan secara lisan subjek mudah memahami tapi dalam membaca sendiri subjek belum bisa. Tulisan tangan subjek juga masih seusia anak-anak tk pada umumnya yaitu masih acak-acak dan cenderung tidak jelas, apabila mood subjek tidak bagus maka subjek cenderung akan menulis asal asalan tentang apa yang dia tulis.

 

Subjek DAS merupakan siswa kelas 2 Sekolah Dasar yang berusia 8 tahun dan berjenis kelamin perempuan, berdasarkan hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang mempunyai IQ 79 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner siswa. Adapun permasalahan yang dialami subjek dapat dilihat dari hasil observasi dan wawancarra bahwa subjek merupakan pribadi yang pendiam dan kurang bergaul Bersama teman-temannya, untuk kemampuan membaca subjek hamper sama seperti MRA bahwa subjek DAS sudah bisa membaca tetapi memerlukan waktu yang cukup lama dikarenakan subjek merasa minder dan tertinggal sehingga subjek jarang menyeruakan apa yang ingin disampaikannya, dalam hal ini subjek sudah dapat mengenal huruf dengan baik dan dapat menggabungkan huruf-perhuruf menjadi kata tetapi masih memerlukan waktu. Dalam hal pemahaman subjek masih kurang memahami terkait apa yang ditulis sehingga padda saat menjawab soal subjek kadang menjawab beberapa soal dengan asal-asalan yang penting subjek bisa menjawabnya saja.

 

Subjek yang kelima yaitu NAP. NAP merupakan siswa kelas 3 Sekolah Dasar yang berusia 9 tahun dan berjenis kelamin laki-laki, berdasarkan hasil diagnosis yang telah dilakukan subjek merupakan siswa kelas satu yang mempunyai IQ 83 yang dimana termasuk dalam kategori slow learner + komorbid.  Adapun permasalahan yang dialami oleh subjek NAP yaitu permasalahan dalam berbicara dikarenaka subjek merupakan salah satu siswa dengan komorbid maka pengucapan yang diucapkan subjek masih kurang jelas dan banyak yang belum dikuasai sehingga dalam kemampuan membaca dan memahami yang dialami subjek masih berada dibawah rata-rata. Dalam kemampuan membaca subjek sudah dapat mengenal huruf dengan baik dan sudah bisa mengucapkan dan membaca dua suku kata tetapi dalam pengucapannya masih kurang jelas. Adapun dalam pemahaman subjek bisa memahami terkait apa yang dibaca nya tetapi, apabila teks yang dibaca subjek terbilang Panjang maka subjek tidak akan mau membacanya dan sudah merasa bosan maka subjek akan meninggalkan pekerjaannya dan bermain dengan dunianya sendiri.

 

 

 

 

DIAGNOSIS DAN PROGNOSIS

 

Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan pada kelima subjek dan merujuk pada teori yang dikembangkan oleh (Bala dan Rao, 2014) bahwa kelima subjek diatas merupakan siswa slow learner hal ini ditandai dengan beberapa karakteristik slow learner itu sendiri yaitu masalah auditori-perseptual meliputi beberapa hal diantaranya: pertama. Ketika didektee, slow learner mengalami kesulitan dalam penulisannya entah itu lupa menulis sehingga kata yang hendak ditulis menjadi kurang lengkap; kedua, slow learner gagal memahami perintah yang bersifat verbal, seringkali  tidak segera memberikan jawaban ketika diberi sebuah pertanyaan; ketiga, anak slow learner lebih menyukai materi yang disajikan secara visual daripada disajikan oral; keempat, ketika diberikan pertanyaan yang bersifat verbal, tidak jarang anak slow learner menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan.yang telah diberikan.  

 

Prognosis perkiraan keberhasilan subjek dalam proses intervensi menggunakan metode fonik untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa slow learner dapat mengalami peningkatakan. Hal ini ditinjau dari tahapan pembelajaran menggunakan metode fonik yang terdiri dari tahap merah (membaca dengan suku kata terbuka), biru (membaca dengan suku kata tertutup), dan hijau (membaca dengan kata yang mengandung suku kata vokal ganda maupun konsonan ganda).

 

INTERVENSI

 

Target intervensi untuk penelitian ini yaitu untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak slow learner dengan gokus penelitian yatiu: (1) siswa dapat membaca dengan dua suku kata terbuka, (2) siswa daoat membaca dengan dua suku kata tertutup, (3) siswa dapat membaca dengan huruf kosonan vocal ganda, (4) siswa dapat memahami terkait apa yang dibacanya. Teknik intervensi yang dilakukan yaitu dengan melakukan pembelajan kepada lima subjek dengan pendekatan menggunakan metode fonik.

 

Metode fonik merupakan suatu metode mengajar membaca yang berkaitan dengan bunyi. Dimana huruf ini terdiri huruf vokal dan konsonan yang digabung menjadi suku kata dan kalimat. Dalam tahap ini siswa dikenalkan dengan cara membunyikan bunyi huruf pada kartu huruf, kartu gambar sesuai perintah guru, misalnya huruf “a” pada kata apel atau anggur, huruf “b” pada benda bola, huruf “c” pada kata cicak atau capung, dan seterusnya (Rianto, 2016)

 

Tahapan menggunakan metode fonik terdiri dari 3 tapan yaitu tahap merah, tahap biru dan tahap hijau; Pada tahap tahap merah yaitu membaca dengan suku kata terbuka seperti ka - ki, ka - ka, su - ka, ma - ta, pi - ta dsb. Tahap biru yaitu membaca kata yang mengandung suku kata tertutup seperti mo-tor, ka-sur, jen-de-la, si-sir, kun-ci, bo-tol, si-rup, dsb. Tahap hijau yaitu membaca kata yang mengandung suku kata vokal ganda maupun konsonan ganda. Contoh kata dari vokal ganda atau double vokal seperti pa-kai, pu-lau, si-lau, dsb. Sedangkan konsonan ganda atau double konsonan seperti nye-nyak, ta-ngan, struk-tur, bin-tang dan sebagai berikut. (Thahir 2012).

 

Adapun teknis pelaksanaan pe,berian dengan menggunakan metode fonik yang dimana mengacu pada teori (Thahir, 2012). Langkah-langkah pelaksaan intervensi dengan menggunakan metode fonik sebagai berikut: a. Anak diperintahkan menggunakan bunyi huruf saat mengeja, b. Anak memanjangkan bunyi huruf saat akan menyambungkan dengan huruf lain, c. Pengajaran dimulai dengan susunan huruf lalu dilanjutkan pola huruf yang lebih rumit, d. Anak dikenalkan dengan bunyi konsonan rangkap sebagai satu kesatuan bunyi, misalnya, konsonan ng dan ny, e. Selain itu, anak juga dikenalkan dengan bunyi vocal rangkap sebagai satu kesatuan bunyi, misalnya ai, au, dan oi.

 

Sebelum diadakannya intervensi, peneliti melakukan pretest terlebih dahulu dengan menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan pada siswa slow learner. Setelah diketahui hasil dari masing masing subjek, dimana kelima subjek yang telah ditentukan mempunyai kemampuan membaca rendah maka selanjutnya peneliti melakukan intervensi kepada 5 subjek dengan menggunakan metode fonik sebagai bahan ajar dalam pelaksanaan penelitian.

 

Dalam penelitian ini intervensi dilaksanakan kurang lebih 12 kali pertemuan selama dua minggu dengan waktu yang didapatkan perharinya kurang lebih 90 menit setiap harinya. Adapun gambaran intervensi yang dilakukan dapat dilihat dibawah ini:

 

Pada Pertemuan 1-3 : fokus peneliitian yaitu memperkenalkan kepada subjek dengan 2 suku kata terbuka seperti (ba-ca, ma-ma, pa-ma, ma-in) dan lain sebagainya yaitu dengan Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kelompok – kelompok huruf, adapun fokus pada pada pertemuan 1-3 yaitu:.

1)    Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kartu kata dengan 2 huruf suku kata

2)    Mengucapkan bunyi-bunyi kelompok-kelompok huruf dan huruf, serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi

3)    Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.

4)    Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa

5)    Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata

Pada pertemuan ke 4-6 : fokus penelitian yaitu meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa. Adapun fokus pada pertemuan ke 4-6 yaitu siswa dapat membaca kartu kata yang mengandung suku kata tertutup seperti (fa-kir, fo-sil, fut-sal, je-ruk) dan lain sebagainya dengan langkah-langkah berikut ini:

1)    Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi kata dengan suku kata tertutup

2)    Mengucapkan bunyi - bunyi kelompok - kelompok huruf dan huruf, serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi

3)    Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.

4)    Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa

5)    Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata

Pertemuan ke 7-9 : fokus penelitian ini yaitu meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa. Adapun fokus pada pada pertemuan ke 7-9 yaitu siswa dapat membaca kartu kata, membaca kata yang mengandung suku kata vocal ganda, seperti (ha-ri-ma-u, du-ni-a, ku-e, tu-pai) dan lain sebagainya dengan langkah berikut ini :

1)    Mengidentifikasi keseluruhan kata, dan bunyi suku kata vocal ganda 

2)    Mengucapkan bunyi - bunyi kelompok - kelompok huruf dan huruf, serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi

3)    Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.

4)    Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa

5)    Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata

Pada pertemuan ke 10-12 : fokus pada penelitian ini yaitu meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa slow learner dengan menggunakan metode fonik. Adapun fokus pada pertemuan ke 10-12 yaitu siswa dapat membaca kartu kata dengan huruf konsonan “ng” dan “ny” seperti (nye-nyak, nya-muk, nya-nyi, si-nga, wa-ngi, nyu-lam dan lain sebagainya). Dengan langkah berikut:

1)    Mengidentifikasi keseluruhan kata, huruf, dan bunyi   kata “ng” dan “ny”.  

2)    Mengucapkan bunyi - bunyi kelompok - kelompok huruf dan huruf, serta bertanya kepada anak huruf apa yang menghadirkan bunyi

3)    Menyajikan kepada anak, huruf atau kelompok huruf dan meminta anak untuk mengucapkannya serta menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata.

4)    Mengambil beberapa huruf pada kata yang tertulis dan anak diminta mengucapkan bunyi kelompok huruf yang masih tersisa

5)      Menanyakan kepada anak tentang keseluruhan kata

 

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Berdasarkan intervensi yang telah diberikan, kelima subjek menunjukkan perubahan positif berdasarkan dari tingkat kemampuan membaca permulaan yang ada pada subjek. Sebelum dilakukan intervensi, dapat dilihat bahwa kelima subjek menunjukkan  kemampuan membaca rendah dimana pada hari pertama intervensi subjek terlihat masih bingung dan belum bisa menggabungkan dan membaca dua suku kata terbuka sedangkan beberapa subjek lainnya belum dapat mengunul huruf huruf abjad dengan baik serta belum bisa membedakan beberapa huruf seperi “m”, “n”, “w”, “b”, “d”, dan lain sebagainya. Kemampuan membaca rendah atau dibawah rata-rata yang dimiliki subjek membuat tingkat pemahaman subjek akan menurun sehingga akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan IQ yang ada pada masing-masing subjek, untuk meningkatkan kemampuan membaca serta pemahaman subjek peneliti menggunakan metode fonik sebagai bahan ajar dalam penelitian ini.      

Pada masing-masing subjek juga mengalami peningkatannya sendiri dapat dilihat bahwa pada subjek AAP bahwa berdasarkan skor Presentase menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan pada subjek sebelum di berikan intervensi sebanyak 0% hal ini dikarenakan subjek belum dapat memahami Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan dan hanya membaca menggunakan imajinasinya saja. Setelah diberikan intervensi presentase skor kemampuan membaca yang diperoleh subjek sebesar 34,16%, dengan aspek kecepatan baca sebesar 56,15% dan aspek pemahaman sebesar 68%.

Pada subjek AAAA saat sebelum diberikan intervensi pesentase skor yang diperoleh subjek sebesar 0% dikarenakan subjek hanya menyebutkan satu persatu huruf pada alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan. Lalu, Setelah diberikannya intervensi selama 12 sesi dapat dilihat perubahan bahwa subjek AAAA sudah dapat membaca huruf menggunakan dua suku kata dan berdasarkan dari presentase hasil setelah diberikan intervensi meningkat sebesar 12,64%, dengan aspek kecepatan baca sebesar 20,42% dan pemahaman sebesar 66%. Hal ini dapat dilihat bahwa kema mpuan subjek sebelum dan sesudah diberi perlakuan menggunakn metode fonik meningkat sebesar 12,64%.

Pada subjek ketiga diketahui bahwa subjek MRA berdasarkan Tes Kemampuan Membaca Permulaan sebelum diberi perlakuan memiliki skor kemampuan membaca sebesar 25,14% dengan\ aspek kecepatan sebesar 33,91% dan aspek pemahaman sebesar 50%. setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan metode fonik selama 12 sesi, dapat dilihat bahwa subjek MRA cepat dalam memberikan tanggapan selama proses intervensi berlangsung sehingga dalam membaca menggunakan dua suku kata serta membaca kalimat dengan dua suku kata. Subjek MRA sudah dapat melakukannya tanpa adanya kesalahan, dilanjut dengan membaca dua suku kata terrtutup subjek sudah dapat membacanya hanya saja memerlukan waktu beberapa saat untuk subjek dapat membaca dengan benar. Pada huruf konsonan dan vocal subjek dapat membacanya tetapi memerlukan waktu untuk subjek memahami bacaannya dan membaca kalimatnya secara utuh. Hal ini dapat dilihat dari presentase kemampuan membaca subjek setelah diberikan intervensi menggunakan metode fonik dapat dilihat bahwa kemampuan membaca subjek meningkat sebesar 45, 34% dan aspek kecepatan meningkat sebesar 56,74% dan aspek pemahaman meningkat sebesar 70%. Hal ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan sebelum dan sesudah diberikan intervensi menggunakan metode fonik.

Pada subjek keempat, diketahui bahwa subjek NAP berdasarkan Tes Kemampuan Membaca   Permulaan sebelum diberi intervensi, memiliki skor kemampuan membaca sebesar 37,17% dengan aspek kecepatan baca sebesar 46,7% dan aspek kemampuan sebesar 55%. Setelah diberikan intervensi menggunakan metode fonik selama 12 sesi, subjek mengakui pembelajaan yang diberikan oleh fasilitator menyenangkan dan tidak membosankan sehingga membuat subjek dapat memahami dan cepat tanggap terhadap apa yang diberikan fasilitator, seperti membaca kalimat dua suku kata terbuka dan tertutup. Pada tahap ini subjek dapat memahami dan menangkap pembelajaran dengan baik, sedangkan pada tahap membaca konsonan dan vocal subjek dapat membacanya tetapi subjek memerlukan waktu untuk mengeja setiap apa yang ditunjukan oleh fasilitator. Hal ini dapat dilihat pada saat subjek di tes kembali menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Permulaan pada subjek diperoleh hasil kemampuan membaca subjek setelah diberikan intervensi sebesar 50,28% dengan aspek kecepatan sebesar 57,55% dan aspek pemahaman sebesar 80%. Hal ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan sebelum dan sesudah diberikan intervensi menggunakan metode fonik

Pada subjek terakhir, diketahui bahwa subjek DAS berdasarkan Tes Kemampuan Membaca Permulaan sebelum diberikan intervensi memiliki skor kemampuan membaca sebesar 12,76% dengan aspek kecepatan baca sebesar 20,6% dan aspek pemahaman sebesar 50%. Setelah diberikan perlakuan menggunakan metode fonik dengan kurung waktu 12 kali pertemuan, maka hasil yang didapat selama prroses intervensi kepada DAS yaitu subjek mempunyai kepercayaan diri yang tinggi hal ini dilihat pada saat fasilitator mengajar subjek DAS, DAS memberikan repson yang cepat dan tanggap, serta DAS juga dapat membaca menggunakan dua suku kata terbuka dan terutup dengan lancar, tetapi. Pada huruf konsonan dan vocal DAS masih memerlukan waktu untuk mengeja dan membaca huruf serta kata yang diberikan fasilitator. Hal ini dapat dilihat dari hasil DAS setelah diberikan intervensi menggunakan Alat Tes Kemampuan Membaca Pemulaan bahwa subjek DAS memiliki skor sebesar 32,93% dengan aspek kecepatan baca sebesar 33,91% dan aspek pemahaman sebesar 50%. Hal ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan sebelum dan sesudah diberikan intervensi menggunakan metode fonik.

Penggunaan metode fonik pada penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan yang ada pada subjek. Dapat dilihat bahwa, berdasarkan dari pemberian intervensi yang dilakukan selama kurang lebih 12 hari dapat dilihat bahwa kelima subjek mengalami peningkatan kemampuan membaca permulaan sebelum dan sesudah di beri perlakuan. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dengan besaran skor z = - 2,023 dan taraf yang signifikan sebesar 0,043 (p<0, 050), yang artinya ada perbedaan kemampuan membaca permulaan yang ada pada subjek sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan menggunakan metode fonik.

Pembahasan

        Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, ketiga subjek mengalami penurunan jumlah kesalahan membaca kata dalam Tes Kemampuan Membaca Permulaan setelah perlakuan, yaitu NAP mengalami penurunan sebanyak 25 kata, MRA sebanyak 27 kata, dan DAS sebanyak 15 kata. Bahkan dengan melalui metode fonik ini juga mampu memfokuskan kepada subjek seperti AAP dan AAAA yang sebelumnya hanya dapat mengenal huruf abjad saja dan belum dapat menggabungkannya menjadi bisa dan membaca dengan dua suku kata, dan meniadakan kesalahan membaca dengan dua suku kata yang dilakukan oleh subjek NAP, MRA dan DAS pada saat Tes Kemampuan Membaca Permulaan setelah perlakuan. Selain itu juga mampu meniadakan kesalahan baca pada tiga suku kata atau huruf dengan konsonan ganda dan vocal anda seperti “ng” dan “ny” kepada subjek NAP, MRA, dan DAS. Hal ini dapat dilihat bahwa, metode fonik mampu menurunkan tingkat kesalahan baca kepada lima subjek penelitian.

        Mengacu pada uraian diatas dapat dilihat bahwa masing – masing subjek memiliki peningkatan yang cepat pada aspek pemahaman dibandingkan dengan aspek kemampuan membaca. Hal ini dapat didasarkan pada pendapat Tampubolon (1990), bahwa ketika pembaca tidak membaca keseluruhan kata dalam suatu bacaan, maka pembaca masih bisa memahami maksud dari bacaan tersebut.

        Menurut aliran kontrustivis yang dikemukakan oleh Andersen (dalam Rahim,2009), bahwa pembaca memahami isi bacaan dengan menghubungkan konteks bacaan dengan pengetahuan yang sebelumnya pembaca miliki (Komarudin, 2016). Hal ini dapat berarti bahwa meskipun dalam suatu teks bacaan tidak membahas secara lengkap tentang suatu hal, maka pembaca memungkinkan tetap dapat memahami teks bacaan tersebut berdasarkan dari pengalaman ataupun penngetahuan yang dimiliki subjek. Sebagai contoh pada bacaan ‘Pensil Alat Tulis Kita’ dalam Tes Kemampuan Membaca Permulaan, tidak terdapat kalimat atau paragraph yang membahas berbagai macam alat tulis selain pensil. Akan tetapi kelima subjek dalam penelitian ini tetap mampu menjawab pertanyaan yang berbunyi ‘Sebutkan Alat Tulis Lain Selain Pensil!”, dan subjek akan menjawab berdasakan pengalaman ataupun pengetahuan subjek sebelumnya, sehingga subjek mampu memahami isi bacaan.

      Adanya peningkatan kecepatan membaca dan pemahaman, maka kemampuan membaca kelima subjek dapat meningkat. Hal ini berdasarkan dari pendapat tampubolon (1990), bahwa kemampuan membaca dikonstruksikan oleh 2 aspek, yaitu kecepatan membaca dan pemahaman, sehingga apabila kedua aspek tersebut meningkat, maka kemampuan memabaca subjek juga akan mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan analisis deskriptif bahwa ada peningkatan rerata kemampuan membaca kelima subjek setelah diberikan perlakuan.

Simpulan

      Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dengan menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dapat diperoleh besaran skor z - 2,023 dengan taraf yang signifikan sebesar 0,043 (P,<0,50), yang artinya ada perbedaan kemampuan membaca permulaan pada subjek sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dengan menggunakan metode fonik. Kemampuan membaca permulaan pada siswa slow learner setelah mendapatkan perlakuan meningkat, hal ini dapat diketahui dari kemampuan membaca permulaan sebelum diberi perlakuan dan sesudah diberi perlakuan lebih baik dengan rerata peningkatan sebesar 24,53 kpm.  

Referensi

Bala Jampala Madhu dan Rao, Digurmati Bhaskara. 2004, Methods of Teaching Exceptional Children New Delhi; Discovery Publishing House

  Komarudin, Rahma Widyana, 2016 Efetivitas Metode Analisis Glass Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak Berkesulitan Membaca Kelas III Sekolah Dasar. Program Magister Psikologi Profesi, Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Yogayakarta

Nani Triani dan Amir, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow Learner), (jakarta: Luxima, 2013), h. 3

Phajane, M. (2014). Introducing Beginning reading Using Phonics Approach. Mediterranean Journal of Social Sciences. Vol. 5, No. 10

Rianto, E. 2016 “Pengaruh Metode Fonik Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Anak ”, Jurnal PAUD Teratai5 (2) : 34-38

Slavin, 2014 Slavin, E.R. 2014. Membaca Membuka Pintu Dunia Program Success For All Model Yang Jelas dan Kuat untuk Meningkatkan Kemampuan Mambaca Anak Sekolah Dasar. Edisi Kedua. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Tampubolon. 2015. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efesien. Bandung:Angkasa.

Thahir, Sumarti. 2015. Pengembangan Bahasa Indonesia Anak Usia Dini Dengan Metode Fonik ( usia 2-8 tahun ). Jawa Barat: Pustaka Hati Educanter